[Life] A Quiet Longing, A Gentle Collapse



Aku sudah lama tidak bicara dengan kepalaku sendiri. Padahal, aku tahu sekali, otakku sangat penuh dan berisik. Entah mengapa, tidak ada kata-kata yang mampu melukiskan kerumitan di dalamnya. Namun, hati ini masih bisa merasa. Dan kerumitan ini hanya membebani, sungguh-sungguh butuh diurai dengan baik.

Aku baik-baik saja. Walau sebagian besar jeda membuatku merindu pada banyak hal. Aku rindu pada diriku yang bersuara lantang. Aku rindu pada kata-kata yang dengan mudah terurai setiap hatiku merasa. Aku rindu pada kejujuran yang bisa terungkap lewat mimik muka dan sorot mata. Aku rindu pada nama-nama yang selalu ada. Dan aku rindu pada satu nama yang selalu aku cinta.

Aku baik-baik saja. Rasa rindu hadir karena rasa kehilangan, dan rasa itu memang sudah seharusnya ada. Tidak perlu aku matikan karena semua hal yang kurindukan adalah hal yang indah, hal yang menjadikan diriku aku. Alasan yang membuat aku harus kehilangan hal-hal yang kurindukan itu pun juga bisa kujustifikasi dengan baik. Hidup berjalan, usiaku bertambah, keputusan harus dibuat, lalu perubahan menyertai semuanya. Kehilangan hanyalah bagian dari perjalanan, pertanyaan sebenarnya adalah: Apakah aku menyukai hidupku yang sekarang?

Entahlah.

Tidak pernah ada hidup sempurna, aku tahu. Tuhan menciptakan hidup bukan untuk dinikmati. Dunia ini bukan untuk dinikmati. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang hidup dalam gelimang kenikmatan. Lalu kenikmatan itu menyerangku dengan rasa bersalah. Pada suatu saat di masa depan, aku harus bertanggung jawab. Bagaimana kalau aku tidak mampu?

Dalam ketidaknyamanan yang sangat terlambat, aku membuat keputusan besar: aku harus berubah. 

Lalu saat perubahan yang telah lama kuinginkan dan kuperjuangkan itu benar-benar terjadi, apakah kehampaan itu hilang?

Tidak.

Perubahan itu sama sekali tidak menenangkanku, malah membuatku was-was hampir setiap hari. Pertanyaan akan masa depan menghantuiku. Akan sampai kapan aku begini? Akan sampai kapan aku merasa seperti ini? Namun, aku tidak punya pilihan lain selain mencoba yang terbaik dan menyerahkan semuanya kembali kepada Sang Penulis Takdir. 

Aku tidak ingin menggenggam terlalu erat apa yang memang bukan milikku sejak awal. Aku tidak mau kembali terjebak dalam kerinduan yang begitu besar kepada sesuatu yang bisa saja lepas seperti yang sudah-sudah. 

Padahal, aku tahu, dalam hidup ini tidak pernah ada yang benar-benar menjadi milikku. Tidak pula diriku sendiri. Hati dan pikiranku bisa terus berganti isi.

Rasa rindu hari ini, pikiran kacau yang menyertai hari-hari, dan segala ketidaksempurnaan dalam hidup ini, mungkin adalah cara Tuhan untuk menasehati: bahwa aku, manusia, tidak mungkin bisa sendiri, karena Dia akan terus menemani, jika aku mau menyerahkan diri. 



Comments