Wanted: The Old 'Finta'!


hah.
gini lho ya gini, gue sedang merasa sedih. kenapa? karena gue ngerasa kehilangan. kehilangan apa? kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi gue. amat sangat berharga. apa?

gue kehilangan diri gue sendiri.

gimana gue bisa bilang kehilangan diri gue kalo setiap saat gue nggak pernah pisah sama gue? (nahlo muter-muterkan bahasa gue? ngahahahahahaha bingungkan lo?)

pada kenyataannya gue sudah tidak mengenal diri gue.

satu, gue lebih pendiam. mungkin orang di sekitar gue kurang sadar akan hal ini, tapi gue sangat menyadari ini. karena apa? pada kenyataannya gue sekarang sudah tidak secakap dulu untuk menimpali orang ngomong. gue lebih banyak mendengarkan daripada ngomong dan suka nggak ngeh orang pada ngomong apa. fokus gue suka ilang. dan pada akhirnya supaya tidak membuat orang-orang disekitar pada tersinggung, gue pun memilih mengangguk sok dong atau membuat suara 'oh' sambil ngangguk atau senyum-senyum aja.

dua, gue jadi lebih jarang nyanyi-nyanyi. seluruh dunia tau gue hobi nyanyi-nyanyi geje. everytime. tapi sekarang udah ga seintensif dulu. dan dunia harus percaya bahwa gue SAMA SEKALI nggak pernah tereak-tereak nyanyi di rumah ataupun konser di kamar mandi.

tiga, gue jadi tertutup. gue jadi jarang curhat. dulu, kalo gue sedih atau ada masalah, hal pertama yang gue lakukan adalah curhat. mau lewat diary kek, twitter, atau blog, atau bahkan telpon si mamat walaupun itu tengah malem sekalipun, gue pasti akan langsung curhat. tapi sekarang? diary gue kosong udah sejak november 2011. blog gue basi. twitter gue sepi. dan hape mamat udah mulai jarang menampilkan kontak nama gue. gue kalo sedih sekarang jadi diem. nggak tau kenapa. gue kehilangan ability gue untuk koar-koar. untuk bilang sama dunia, "HEI DUNIA, GUE LUTHFINTA NURUL DZIKRINA SUDAR SEDANG TIDAK ALRIGHT!!!!"

empat, seperti contoh yang gue beberkan di atas, gue kehilangan salah satu expertise gue: nulis. yah. ini sangat bikin frustasi. gue selalu suka nulis. gue harusnya selalu bisa menulis. gue harusnya setiap ada kertas dan pensil selalu bisa menulis puisi. gue harusnya bisa menginterpretasikan emosi gue di atas kertas atau keyboard leptop. gue harusnya nggak pernah kehilangan kata. dan sekarang, ketika emosi gue di ubun dan di depan gue ada kertas dan pensil, dan gue tau gue harus menulis, dan ternyata gue cuma bisa menatap nanar tanpa satu huruf pun terukir, jujur, gue frustasi.

lima, mungkin orang pada nggak bakalan percaya ya kalo gue tulis disini, tapi gue ngerasa kadar ke-alayan gue berkurang. sungguh menyedihkan. lu kalo pada gak percaya, ni sebagai salah satu contoh ya, liat aja deh template blog gue. gue secara baru sadar sudah bikin ini blog jadi nggak alay setelah beberapa saat gue selesai bikin ini template. dan lagi, gue nyesek banget ngabacain tulisan-tulisan gue jaman dulu. begitu ceplas-ceplos, bahasanya acak-acakan, gak mikir. dan auranya itu lho, alay banget. sekarang, tulisan begitu tertata. ah jijik. gue nggak ngerasa nemuin 'finta' kalo nggak alay.

enam, gue tidak merasa menemukan 'finta' setiap gue ngaca. gue nggak menemukan 'finta' difoto-foto gue. karena apa? gue selalu bisa menemukan ketidak jujuran pada refleksi sebuah 'finta' yang gue liat.

tujuh, seharusnya 'finta' itu nggak akan pernah mikir apakah yang dia lakuin untuk dirinya itu baik atau buruk. bener atau nggak. penting atau nggak. karena harusnya, 'finta' itu nggak peduli. karena ketika gue sadar bahwa gue peduli apakah yang akan gue posting itu penting atau nggak, orang perlu tau apa nggak, bener atau nggak, (end up nggak jadi posting. thats why deh kayaknya ini blog isinya jadi kalo nggak quotes ya jadi foto semua) apakah gue peduli pendapat orang tentang baju gue, nilai ujian gue, isi twitter gue, foto gue, atau bahkan jerawat di pipi gue.. saat itu gue tau, bahwa yah, makhluk apapun yang saat ini sedang berada dalam tubuh gue, itu pasti bukan 'finta'.

dan inilah alasan kenapa gue harus menulis postingan ini: untuk meyakinkan pada diri gue sendiri bahwa gue masih finta. gue masih bisa kok nulis apa yang gue rasain. gue masih bisa nulis dengan ceplas-ceplos. gue masih bisa jujur sama diri gue sendiri. gue masih bisa kok nggak mikir. buktinya gue post juga posting yang seluruh dunia nggak harus tau apa yang terjadi sama gue tapi karna ini adalah blog gue yaudah, tulis tulis aja. dan buktinya gue menulis hal gak penting bahwa gue menulis tulisan ini DI RUMAH dan gue menulis sambil MBRENGENG nyanyi lagu big bang.

ya, gue masih finta. masih ada finta yang harus gue kenal dalam diri gue yang sekarang.

sebelum gue gila.



Photobucket

Comments